Koruptor Adalah Pembunuh Ekonomi Rakyat

1
113

PPMK.WEB.ID – I was put into office by the people who believed in my idea that corruption is the root of poverty; that an end to corruption would mean an end to poverty.(President Philipina Benigno Aquino III)

Saya telah mengajak orang-orang yang meyakini ide saya bahwa korupsi adalah akar kemiskinan; jadi mengakhiri sikap dan tindakan korupsi berarti mengakhiri terjadinya kemiskinan.

Korupsi dari Bahasa latin adalah corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Pada pengertian harfiah korupsi dapat diartikan sebagai suatu prilaku pejabat publik yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang ilegal.

Korupsi di Indonesia bukan lagi sesuatu yang asing, bahkan telah lumrah didengar dan dilakukan, baik dari kalangan petinggi negara sampai kalangan akar rumput. Seseorang yang meneriakkan anti korupsi sekalipun belum tentu dia bersih dari Korupsi. Artinya Indonesia kaya dengan orang-orang berstatus “Maling Teriak Maling”. Terkadang geli-geli sedih kita mengamati kondisi bangsa ini.

Bak panggung theater, mereka memainkan peran masing-masing dengan bangga dan angkuh membeberkan “siapa punya kartu AS siapa”. Saling tuduh, saling sikut, saling kompor dan saling berakting. Luar biasa memang Negara ini. ini adalah aksi para koruptor negeri.

Jika korupsi telah membudaya maka akan sangat sulit untuk memberantasnya. Benarkah korupsi telah menjadi budaya di Indonesia? Tradisi yang harus dikembang dan dilestarikan? Benarkah ini akan membuat negeri dan masyarakat menjadi kaya dan sejahtera, tentu kita bisa jawab sendiri bukan?

Hari ini, Korupsi telah menjadi budaya di Indonesia, dan sangat disayangi di negeri ini. Ada banyak bukti yang menjelaskan hal itu. Yang jelas adalah bahwa benang merah dari perbuatan korupsi ini dapat dilihat dari alur berfikir sebagian besar orang Indonesia masa lalu maupun masa kini. Masa lalu mungkin dapat direpresentasikan oleh jatuhnya VOC akibat korupsi yang meraja lela.

Sedangkan masa kini, korupsi diperlihatkan oleh zaman Orde Baru Soeharto dan tetap saja terjadi di Era Reformasi ini.

Rentetan Bukti, seperti kasus mantan Presiden Soeharto, tidak dapat ditaksir karena terlalu besar jumlahnya. Pak Soeharto merupakan Presiden yang dikenal dengan bapak “Pembangunan” oleh sebagian orang saja. Memang benar dibawah kepresidenan Soeharto yang menjabat selama 32 tahun ini, sektor pembangunan Indonesia meningkat. Namun bagaimana dengan kebutuhan rakyatnya ? tak meningkat!

Melalui 7 buah yayasan yang diketuainya, Soeharto menetapkan keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995, dimana yang menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri. Hasil penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung.

Majalah TIME ASIA EDISI 14 Mei 1999 juga turut mengeluarkan artikel mengenai kekayaan mantan orang nomor satu di Indonesia itu dengan Judul “Soeharto Inc. How Indonesia’s Longtime Boss Built a Family Fortune” (Perusahaan Soeharto, Bagaimana Cara Bos Indonesia Membangun Kekayaan Keluarga). Dimana majalah itu berisikan statement bahwa total jumlah korupsi Soeharto sebesar Rp 150 Triliun.

Belum lagi kasus Edy Tansil. (total korupsi USD 565 juta), kasus Subsidi BBM (total korupsi Rp 50-70 triliun pertahun, Kasus Bank Century (total korupsi USD 670 juta) dan sekarang Kasus E-KTP yang masih menjadi teka teki bagi penegak hukum. Ada beberapa orang elit politik ternama yang terlibat dan mereka seakan memainkan permainan catur untuk menjatuhkan dan menyingkirkan lawan. Negara terkaya tapi terkenal dengan kemiskinannya. Negara mayoritas muslim terbesar tapi termasyhur dengan Korupsinya. Memalukan.

Hal ini membuktikan bahwa masih lemahnya hukum di negara kita. Hukum di negara ini seakan bisa di beli dan di kendalikan sesuka hati asalkan ada Uang. Buktinya beberapa Anggota MK dan penegak hukum lainnya juga tertangkap karna korupsi, kasus sogok dan lainnya. Semua organ Pemerintah untuk menjadikan Indonesia yang bebas dari kemiskinan telah lumpuh. Manusianya, sistemnya dan hukumnya. Tak adalagi yang bisa di harapkan. Terkadang juga sifat acuh tak acuh dari kita mayarakat juga menyebakan ini terjadi. Kenapa sanksi untuk maling Ayam lebih berat dari pada sanksi bagi seorang penjahat negara? ini bukti bobroknya hukum di negara kita. Maka tidak heran jika Koruptornya semakin merajalela dan membuat rakyat menjerit.

*Revolusi Mental*

Benar yang di katakan Presiden Jokowi, kita harus melakukan Revolusi Mental, perbaiki mental yang telah terlanjur cacat dan busuk. Disini peran pendidikan sangat di harapakan.

Semua berawal dari pendidkan Orang tua, Guru, dan lingkungan. Terutama yang mesti ditanamkan kepada generasi muda adalah kokohkan Aqidah, supaya jiwanya tidak mudah digerogoti hal yang kotor, agar tidak mudah terbawa arus yang kian hari kian ganas. Semua pihak bertanggung jawab akan kelangsungan sehatnya jiwa seorang anak. Maka kewajiban kita adalah menjadikan aqidah masing masing kita tetap teguh kepada keyakinan yang kita Anut. Pada akhirnya apapun yang berada diluar sana ketika mereka di lepas ke masyarakat tidak lagi canggung dan kaget akan apa yang sebenarnya terjadi.

Seseorang bahkan dapat menjadi pembunuh ribuan manusia, karna korupsi yang dilakukannya. Tindakan memperkaya diri sendiri ini sangatlah tidak dianjurkan dalam agama. Apalagi dilakukan dengan mencuri dari uang rakyat. Menjadi pribadi yang memiliki rasa simpati dan empati serta amanah tidak akan pernah mau untuk menyalah gunakan jabatan yang di amanahkan kepadanya. Jika hati masih menjadi control akan prilaku dan otak menjadi petunjuk akan tindakan maka betapa indahnya negara ini, tidak ada lagi rakyat yang merasa di rugikan oleh pihak-pihak tertentu, misalnya kegiatan Pungli yang dilakukan beberapa oknum, atau menikmati duit negara untuk kesenangan dunia semata.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi dapat membunuh ekonomi rakyat. Dampak korupsi dapat dilihat secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya adalah kenaikan harga-harga barang akibat anggaran APBN yang dikorupsi. Bertambahnya rakyat miskin dikarenakan uang tunjangan bagi rakyat miskin yang seharusnya disalurkan sudah dikorupsi.

Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan rakyat untuk mendapatkan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang seharusnya bersubsidi. Kesenjangan pendapatan semakin tinggi.

Banyaknya rakyat yang di PHK akibat perusahaan kecil tempat mereka kerja gulung tikar akibat dana investasinya dikorupsi. Dan masih banyak lagi dampak negatif lainnya korupsi.

Maka kembali kita kepada kata presiden fillipina di atas, bahwa korupsi adalah akar kemiskinan. Jadi mengakhiri sikap dan tindakan korupsi berarti mengakhiri terjadinya kemiskinan.

(Refil Julia Putri)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY