Mengenal Lebih Dekat Dengan Musik Marawis

0
164

PPMK.WEB.ID – Musik seni Marawis merupakan salah satu budaya di Indonesia. Budaya marawis berkembang dibeberapa kota tidak terkecuali DKI Jakarta.

Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan nada marawis, yaitu zapin, sarah, dan zahefah.

Pukulan zapin biasanya untuk mengiringi lagu-lagu Sahdu yang mengandung unsur puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan memiliki tempo nada lebih lambat, sehingga tidak terlalu menggentak saat memainkannya dan Jenis pukulan ini juga biasa digunakan untuk mengiringi lagu-lagu melayu.

Pukulan sarah dan zahefah identik dengan nada gembira dan lebih banyak digunakan untuk irama yang mengentak, sehingga membangkitkan semanggat saat memainkannya.

Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan mengangkat. Setiap pemain harus belajar memukul gendang untuk pengaturan nada.

Sedangkan Marawis itu sendiri adalah salah satu jenis “musik tepuk” dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Indonesia, yang memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.

Kesenian marawis ini hampir identik dengan kesenian Sufi karena setiap Syair yang dibawakan mengandung puji – pujian kepada Rasulullah SAW.

Secara umum musik marawis terdiri dari lima jenis, yaitu Marawis, Hajir, Dumbuk Pinggang, Dumbuk Batu, dan Simbal.

Marawis itu sendiri adalah gendang kecil yang berdiameter 20 cm dengan tinggi 10 cm. Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi dan alat inilah yang menjadi ciri khas dari musik jenis musik gendang lainnya, sehingga musik jenis ini pun disebut dengan Marawis.

Sedangkan Hajir adalah sebuah gendang yang berukuran diameter 45 cm dengan tinggi 60-70 cm. Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi dan bentuknya mirip sebuah tabung serta bagian ujungnya ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai selaput atau bunyi nada. Adapun kulit binatang yang biasa digunakan adalah kulit kambing atau domba sama seperti marawis.

Dumbuk Pinggang dan Dumbuk Batu merupakan alat musik sejenis gendang yang berbentuk mirip dandang, bagian tengah dan kedua ujungnya memliki diameter yang berbeda – beda, diameter terbesar pada ujung yang ditutup dengan selaput dari mika.

Kemudian disusul bagian ujung yang terbuka, sedangkan pada bagian tengah memiliki diameter terkecil. adapun disebut dumbuk pinggang karena dalam penggunaannya alat ini diletakkan di pinggang. Sedangkan Dumbuk Batu memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dibandingkan Dumbuk Pinggang. adapun disebut dumbuk batu karena konon pada awalnya terbuat dari batu.

Dan yang terakhir adalah Simbal. Simbal merupakan alat musik yang berbentuk bulat dan terbuat dari kuningan. Alat ini biasanya untuk melengkapi musik marawis dan memiliki diameter kecil, dimana kedua alat ini digabungkan menjadi satu kesatuan.

(M. Ilyas)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY