Peran Komunikasi Orangtua Dalam Membentuk Karakter Anak

0
214

ppmk.or.id- Seorang anak merupakan sebuah aset berharga bagi kedua orangtuanya. Tentunya sebagai titipan Tuhan, seorang anak diharapkan mampu menjadi manusia terbaik yang bisa membanggakan kedua orangtuanya. Melalui anaklah sering orangtua berharap cita-cita mereka terlaksana. Namun, memiliki anak yang berkualitas tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Peran serta orangtua sangat memengaruhi perkembangan anak. Keaktifan orantualah yang paling dominan dalam membentuk karakter anak kelak. Seperti apa yang dikatakan Mardiya dalam bukunya yang berjudul “Kiat-kiat Khusus Membangun Keluarga Sejahtera”, institusi terkecil seperti keluargalah yang dapat mepengaruhi perkembangan individu anggota-anggotanya, termasuk sang anak. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan pelbagai bentuk kepribadiannya di masyarakat. Oleh karena itu, tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja, mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang yang dapat dirunut dari keluarga.

Melalui komunikasi yang intern, baik ketika masih dalam kandungan maupun ketika masa-masa balita diyakini mampu merangsang motorik otak jabang bayi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ilmuwan, seorang balita mampu mengenali dan mengingat segala bentuk suara yang dia dengar walaupun masih di dalam kandungan. Sehingga ketika dia lahir, sudah mampu mengenali siapa orangtuanya dan apa yang diajarkan oleh orangtuanya dulu.

Saya sangat takjub ketika muncul fenomena seorang doktor cilik, yaitu seorang anak berumur tujuh tahun yang bukan hanya hafal bahkan sampai memahami seluruh kandungan al-Qur’an. Karena kecerdasannya itulah akhirnya sebuah universitas di Inggris memberikan gelar doktor untuknya meskipun dia baru berusia tujuh tahun. Anak tersebut merupakan putra dari sepasang suami istri dari Persia.

Dalam majalah Ashena terbitan bulan juni 1998, ibundanya menuturkan apa yang dia lakukann ketika mengandungnya dulu, ia mengutip sebuah hadits yang artinya “orang yang menderita, menderita di perut ibunya; orang yang bahagia, bahagia di perut ibunya”. Maksud dari hadis ini, penderitaan manusia itu berawal dari perut ibundanya, begitupula kebahagiaan manusia, berawal dari perut ibundanya.
Ketika ibundanya mengandung janin dalam perutnya, haruslah sang ibu tersebut mengajak jabang bayi berkomunikasi. Baik itu hanya dengan berucap sendiri ataupun dengan memperdengarkan musik-musik sehingga menumbuhkan perkembangan anak. Maka tak aneh, bila anak berumur tujuh tahun telah menghafal al-Qur’an dengan baik, mengingat kedua orangtuanya yang ketika bayi masih dalam kandungan senantiasa membacakan al-Qur’an. Disinilah peran orangtua ditantang untuk mampu menciptakan karakter anak dalam kapasitas agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.

The Golden Age
Ibarat kertas, seorang anak ketika lahir ke dunia merupakan lembaran kertas putih yang siap diisi dengan tinta kehidupan. Maka orangtualah yang memiliki kewajiban menuliskannya dengan nilai-nilai yang baik, agar anak memiliki pengetahuan yang bermanfaat, dan berbudi pekerti mulia. Seperti sabda Nabi Muhammad Saw.: Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah secara baik.

Menurut para ahli psikologi, usia balita adalah The Golden Age (masa emas) dalam tahap perkembangan hidup manusia. Dikatakan sebagai masa emas karena pada masa ini tidak kurang 100 milyar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal di kemudian hari.

Dalam banyak penelitian menunjukkan kecerdasan anak usia 0-4 tahun terbangun 50% dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibanding masa-masa sesudahnya. Artinya bila pada usia tersebut tidak mendapat rangsangan yang maksimal maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal. Di samping itu, bukan tidak mungkin bila pada masa ini anak tidak dapat mengalami perkembangan emosi, sosial , mental, intelektual, dan moral sangat menentukan karakter cara bersikap dan pola perilakunya.

Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan.

Anak pada masa usia balita paling suka meniru. Apa yang dilihat, dirasa, didengar, dan diresapinya akan ditiru. Sampai-sampai kebohongan orangtuanyapun bisa ditiru dari gaya bahasanya. Inilah mengapa orangtua harus memberi contoh yang baik.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut memang sangat sesuai dengan perilaku anak dan orangtuanya. Orangtua yang suka berbohong, maka anaknya tak jauh berbeda, sedikit banyaknya pernah berbohong. Orangtua yang suka bertutur dengan bahasa yang santun, maka anak pun pasti mengikutinya dengan gaya bahasa yang sama. Itu baru dari segi bahasa, belum lagi perilaku. Anak bahkan sampai meniru gaya orangtua makan, minum, gerak tubuh, dan gaya dia berbicara.

Imam Musbikin mengutip pernyataan Dr. Sylvia Rimm, Direktur The Family Achivement Centre di Clevelend, Amerika, dalam bukunya Mengapa Ya Anakku Kok Suka Berbohong…?, “ada tiga hal yang mempengaruhi si kecil meniru segala sesuatu yang dilakukan orang dewasa. Pertama, ada banyak persamaan antara si kecil dengan orang dewasa. Kedua, adanya kedekatan atau ikatan khusus antara anak dengan orang dewasa yang ditirunya. Ketiga, di mata anak, orang dewasa memiliki power (kekuatan) tertentu.” Mungkin inilah yang menyebabkan anak balita mengidolakan sosok ayah atau ibunya yang memegang otoritas dalam kehidupannya.

Komunikasi Orangtua: Tahap Awal Pendidikan
Wiryanto dalam Pengantar Ilmu Komunikasi menyatakan Komunikasi merupakan sebuah proses, dalam arti tersampaikannya sebuah pesan, terpahaminya sebuah arti atau terciptanya persepsi yang sama atau berbeda karena melalui tahapan-tahapan tertentu. Maka komunikasi bukanlah hal yang bersifat statis. Implikasi dari hal ini menunjukkkan bahwa komunikasi memerlukan tempat dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok atau khalayak ramai.

Lebih lanjut, Hendy Hermawan menegaskan bahwa sebuah komunikasi merupakan struktur ilmu pengetahuan yang meliputi aspek aksiologi, epistemologi, dan ontologi. Aksiologi mempertanyakan dimensi utilitas (faedah, peranan, dan kegunaan). Epistemologi menjelaskan norma-norma yang dipergunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sedangkan ontologi mengenai struktur material dari ilmu pengetahuan.

Dalam masa bayi, sangat baik untuk melakukan komunikasi dengan memberikan pelajaran-pelajaran. Mungkin anak bayi tersebut tidak mengerti tetapi dapat meresapi apa yang orangtua ucapkan. Dan pada masa tatih nanti, yakni saat usia bayi di atas 18 bulan sampai 3 tahun, anak tersebut akan meniru apa yang ia dengar pada masa bayi lalu dan apa yang ia dengar pada masa tatihnya dengan mengucap ulang apa yang didengar, walaupun tidak sesuai dalam menirukannya. Dr. Reni Hawadi menjelaskan bahwa pada masa tatih inilah, anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.

Saya teringat kala seorang ayah menggendong anaknya, beliau selalu membacakan bacaan salat, salawat, nama-nama Nabi ataupun sifat-sifat Allah dan RasulNya. Meskipun dengan pelafalan yang kurang jelas, terlihat anak tersebut mencoba menirukan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Cara demikian dilakukan oleh ayah tersebut sejak lahir sampai kira-kira umur 6 tahun. Tak aneh, bila anaknya telah bisa melakukan salat seperti orang dewasa.

Tidak hanya itu, ayah ataupun ibunya juga selalu membacakan doa ketika anaknya mau makan, setelah makan, mau tidur, dan setelah tidur. Dengan cara demikian, anak tersebut tak kala besarnya tak lagi perlu dituntun untuk baca doa, karena ia telah mengetahui sendiri bahwa orangtuanya selalu melakukan itu.

Berbanding terbalik, jika orangtuanya selalu berkata kasar, jorok bahkan hina dan nista. Anaknya pasti juga akan berkata menyerupai perkataan orangtuanya. Dengan perkataan akan berdampak pada perilaku, baik sedikit maupun banyak. Perkataan seseorang dapat mencerminkan perilakunya.

Di mata anak, orangtua adalah figur idola yang kesehariannya merupakan contoh yang selalu ditiru. Dengan memainkan peranan orangtua dengan benar dan sebaik mungkin dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Yang tak kalah penting, anak akan tumbuh berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi penerus bangsa di masa depan. (A.fy)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY